Berita

 Network

 Partner

Koperasi Syangga Mama Amina Ahek, Direktur GEMAPALA Nikholas Djemris, Wakil Bupati Fakfak Yohana Dina Hindom dan moderator Al Muiz Liddinillah saat mengikuti seri 3 diskusi daring pengelolaan produk inovatif dengan tajuk Pala dan Budaya Fakfak yang menjadi bagian dari Program PAPeDA, Jumat (20/8).

Program PAPeDA Komitmen Jaga Hutan dan Budaya Fakfak Melalui Pelestarian Pala

Berita Baru, Jakarta – Program Pertanian Berkelanjutan di Tanah Papua (PAPeDA) yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan didukung oleh The Asia Foundation (TAF) berupaya melestarikan hutan dan budaya dengan menanam pohon pala di Fakfak, Papua Barat.

Hal itu disampaikan oleh para pemateri serial diskusi Festival Torang Pu Para Para Seri III bertajuk Pala dan Budaya Fakfak yang menjadi bagian dari Program PAPeDA, Jumat (20/8).

“Menanam pala itu untuk menjaga hutan agar tidak rusak. Kita berkebun, kita menanam sayur, kita juga harus menanam pala lagi. Jadi saat musim panen, kita bisa memanfaatkan pala tapi hutan tidak rusak,” kata Mama Amina Ahek dari Koperasi Syangga, sebagai salah satu pemateri.

Di samping itu, Mama Amina juga menjelaskan adanya keterkaitan antara menanam pala dan budaya di Fakfak.

“Budaya Fakfak dan pala itu terkait, karena semboyannya kita itu satu tungku tiga batu, walaupun berbeda kita tetap satu. Jadi dengan menanam pala, kita membawa semangat budaya itu,” tuturnya.

Mama Aminah juga mengatakan sejak 2014 ia mulai mengolah manisan pala, sirup pala, selai pala, fermentas pala, sama sari buah dari daging pala.

Berita Terkait :  Usung Semangat Jaga Hutan Papua, Ini Rangkaian Festival TORANG PU PARA PARA

“Bagian yang lain juga bisa digunakan untuk bahan masakan. Untuk bumbu-bumbu,” terangnya, dalam acara yang juga ditayangkan melalui Youtube Asmat Papua Official, Youtube Beritabaruco, dan Facebook Beritabaru.co ini.

Sementara itu, Direktur GEMAPALA, Nikholas Djemris yang juga terjun mendampingi masyarakat untuk melakukan budidaya buah pala mengatakan pala merupakan komoditas utama di Fakfak.

“Fakfak ini kota pala, karena komoditas utamanya pala. Dan pala di Fakfak itu endemik, berbeda dengan pala di Maluku atau di tempat lain. Dia pala asli dari Papua, yang secara fisik berbeda, agak lonjong. Di samping itu, di Fakfak ini sudah membudaya, turun temurun,” tutur Nikholas Djemris.

Nikholas Djemris juga mencatat bahwa Indonesia berada pada peringkat pertama produksi pala dunia, sebesar 75 persen dan Papua Barat berada di posisi kelima dalam menyumbang produksi pala di Indonesia.

“Menurut dinas perkebunan, ada sekitar 16-17 ribu hektar yang ditumbuhi pala. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, pala ini sudah menjadi komoditas utama dari Fakfak,” jelasnya.

Karena itu, Nikholas Djemris bersama dengan GEMAPALA mendampingi masyarakat untuk membudidayakan pala yang menurutnya masih belum maksimal.

“Fakfak itu hutannya terjaga karena ada pala. Kami dengan teman-teman dari GEMAPALA mendorong pala ini harus dipertahankan bukan hanya demi kelestarian hutan, tapi juga sustainability atau keberlanjutan penghasilan masyarakat Fakfak. Dan itu merupakan kearifan lokal … pala ini penjaga hutan,” tuturnya.

Berita Terkait :  Kades Sumber Agung Komitmen Tingkatkan Ekonomi Hijau

Hal serupa juga dikatakan oleh Wakil Bupati Fakfak, Yohana Dina Hindom yang menjelaskan bahwa pala dapat menopang penghasilan masyarakat Fakfak.

“Sudah pasti, pala ini merupakan potensi. Kami di masyarakat Fakfak, apabila tidak mempunyai pohon pala, berarti bukan orang Fakfak. Itu menjadi warisan leluhur kami dan orang tua kami, mereka hidup dari hasil atau potensi dari pala. Dan itu menjadi nilai ekonomi,” jelasnya.

Atas hal itu, Yohana mengatakan pihak pemerintah Fakfak akan terus mendukung masyarakat dalam pengelolaan pala.

“Kami menyediakan mereka fasilitas sarana penunjang untuk meningkatkan pendapatan, kami juga bantu meningkatkan pengelolaan daging pala bisa tersalurkan dengan baik dalam bentuk dana, baik melalui koperasi atau langsung ke UMKM itu sendiri,” ujarnya.

Tantangan Pengelolaan Pala

Akan tetapi, Yohana juga mencatat perihal kendala dalam pengelolaan pala untuk bisa menjadi penghasilan masyarakat.

“Pemasaran adalah pekerjaan rumah kita bersama. Sementara ini, pemasaran produksi pala masih secara internal dan karenanya kami juga sedang mencoba memperluas jaringan agar pemasarannya bisa keluar dan bahkan sampai ke luar negeri,” terangnya.

Berita Terkait :  Kelola Hasil Alam Papua, Tanaman Sereh Wangi Jadi Komoditas Perekonomian di Keerom

Nikholas Djemris, lebih lanjut, mengatakan ada setidaknya 4 tantangan agar budidaya pala ini bisa menjadi produk yang bisa bersaing di pasaran.

“Yang pertama itu pemasaran, seperti yang dikatakan Mama Yohana tadi. Lalu yang kedua adalah kualitas, artinya, mendampingi itu bukan hanya sekedar, membuat dan selesai. Tapi perlu tahapan bagaimana penguatan kapasitas terus menerus. Kami di GEMAPALA itu bisa sampai 2 tahun. Itu pun masih perlu terus didampingi,” jelasnya.

Tantangan selanjutnya adalah terkait tentang regulasi produk olahan pala.

“Izin-izin edar BPOM, dinkes dan sebagainya, karena produk olahan itu harus memenuhi standar kesehatan. Dan itu lumayan, harus ada IMB, harus ada NPWP, kalau di kampung-kampung, itu terbatas. Jadi itu tantangan selanjutnya,” papar Nikholas.

Menanggapi itu, Wakil Bupati Yohana berkomitmen akan terus melestarikan budaya dan pohon pala.

“Pala itu melambangkan perempuan Fakfak. Oleh sebab itu Komitmen kami, kami akan jaga dan lindungi pohon pala sebagai identitas kami, dan kami kembangkan. Sampai kapanpun, pala akan menjadi bagian dari identitas kami,” pungkas Yohana.