Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Penggagas Produk Sereh Wangi Keerom Muhammad Arif Sutte saat menjadi pemateri dalam acara Seri Diskusi Pengelolaan Produk Inovatif Pangan Papua: Festival Torang Pu Para Para, Senin (16/8).

Kelola Hasil Alam Papua, Tanaman Sereh Wangi Jadi Komoditas Perekonomian di Keerom



Berita Baru, Jakarta – Penggagas Produk Sereh Wangi Keerom Muhammad Arif Sutte menceritakan bahwa untuk fokus pada satu pengelolaan hasil alam Papua, khususnya Produk Sereh Wangi di kampung Skanto dan kampung Gudang Garam 54 melalui proses yang panjang.

“Awalnya bukan hanya Sereh Wangi yang kami lirik dan kelola, ada juga nilam, ada pinang dan lain sebagainya. Tapi dari proses diskusi dan konsultasi dengan dengan berbagai pihak, muncullah tanaman Sereh Wangi,” kata Arif Sutte dalam Seri Diskusi Pengelolaan Produk Inovatif Pangan Papua: Festival Torang Pu Para Para, Senin (16/8).

Menurut Arif Sutte, setidaknya ada beberapa pertimbangan yang mendasari keputusannya mengambil Sereh Wangi sebagai komuditas. “Dari segi iklim, tanaman sereh wangi untuk daerah Keerom diketahui sudah sangat cocok dan selama ini sudah banyak tumbuh. Jadi dari kesesuain iklim, tanaman sereh kita sepakati cocok,” ungkapnya.

Kemudian, lanjutnya, yang menjadi pertimbangan juga tanaman sereh wangi di kawasan Keerom bukan tanaman langka dan asing bagi masyarakat setempat. Selain itu juga secara sosial dan budaya Sereh Wangi sudah menananya meski belum menjadi usaha dalam sekala besar.

“Pertimbangan-pertimbangan lain adanya dukungan dari beberapa stakeholder untuk pengembangan tanaman Sereh Wangi tersebut. Sebelum program ini masuk, sudah ada 20h hektar tanaman Sereh Wangi,” jelas  Arif Sutte.

Ia menegaskan dengan adanya beberapa bertimbangan tersebut besar harapan tanaman Sereh Wangi dapat berkembang dengan baik dengan menghasilkan produk lokal yang berkualitas dan mendongkrak ekonomi masyarakat Kabupaten Keerom.

Sebagai tambahan informasi, Festival Torang Pu Para Para merupakan salah satu kegiatan dari Program Pelestarian Sumber Daya Alam dan Peningkatan Kehidupan Masyarakat Adat melalui Pertanian Berkelanjutan di Tanah Papua (PAPeDA).

Festival tersebut diselenggarakan oleh dengan Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) di Provinsi Papua dan Papua Barat untuk memperkuat Kolaborasi Pasar produk-produk yang dihasilkan oleh kelompok masyarakat yang didukung oleh The Asia Foundation (TAF).